Showing posts with label TENTANG AMBONESE. Show all posts
Showing posts with label TENTANG AMBONESE. Show all posts

Wednesday, May 30, 2012

Maluku sangat kaya raya sejak masa peradaban kuno

Maluku - Kepulauan rempah-rempah


Maluku memiliki nama asli "Jazirah al-Mulk" yang artinya kumpulan/semenanjung kerajaan yang terdiri dari kerajaan-kerajaan kecil. Maluku dikenal dengan kawasan Seribu Pulau serta memiliki keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang berlimpah. Orang Belanda menyebutnya sebagai ‘the three golden from the east’ (tiga emas dari timur) yakni Ternate, Banda dan Ambon. Sebelum kedatangan Belanda, penulis dan tabib Portugis, Tome Pirez menulis buku ‘Summa Oriental’ yang telah melukiskan tentang Ternate, Ambon dan Banda sebagai ‘the spices island’.

Pada masa lalu wilayah Maluku dikenal sebagai penghasil rempah-rempah seperti cengkeh dan pala. Cengkeh adalah rempah-rempah purbakala yang telah dikenal dan digunakan ribuan tahun sebelum masehi. Pohonnya sendiri merupakan tanaman asli kepulauan Maluku (Ternate dan Tidore), yang dahulu dikenal oleh para penjelajah sebagai Spice Islands.

Pada 4000 tahun lalu di kerajaan Mesir, Fir’aun dinasti ke-12, Sesoteris III. Lewat data arkeolog mengenai transaksi Mesir dalam mengimpor dupa, kayu eboni, kemenyan, gading, dari daratan misterius tempat “Punt” berasal. Meski dukungan arkeologis sangat kurang, negeri “Punt” dapat diidentifikasi setelah Giorgio Buccellati menemukan wadah yang berisi benda seperti cengkih di Efrat tengah. Pada masa 1.700 SM itu, cengkih hanya terdapat di kepulauan Maluku, Indonesia. Pada abad pertengahan (sekitar 1600 Masehi) cengkeh pernah menjadi salah satu rempah yang paling popular dan mahal di Eropa, melebihi harga emas.

Selain cengkeh, rempah-rempah asal Maluku adalah buah Pala. Buah Pala (Myristica fragrans) merupakan tumbuhan berupa pohon yang berasal dari kepulauan Banda, Maluku. Akibat nilainya yang tinggi sebagai rempah-rempah, buah dan biji pala telah menjadi komoditi perdagangan yang penting pada masa Romawi. Melihat mahalnya harga rempah-rempah waktu itu banyak orang Eropa kemudian mencari Kepulauan rempah-rempah ini. Sesungguhnya yang dicari Christoper Columbus ke arah barat adalah jalan menuju Kepulauan Maluku, ‘The Island of Spices’ (Pulau Rempah-rempah), meskipun pada akhirnya Ia justru menemukan benua baru bernama Amerika. Rempah-rempah adalah salah satu alasan mengapa penjelajah Portugis Vasco Da Gama mencapai India dan Maluku.

Kini sebenarnya Maluku bisa kembali berjaya dengan hasil pertaniannya jika terus dikembangkan dengan baik. Maluku bisa kaya raya dengan hasil bumi dan lautnya.

Sumber

Tuesday, May 22, 2012

Jazz Amboina Beach



Inilah Hasil karya, dari Anak negeri Soya (Kota Ambon)
Video ini menceritakan tentang keindahan pantai kota ambon dengan alunan musik Jazz.

Arr : Hervey Rehatta
Music: RayJhon Rehatta
            Romel Rehatta

Wednesday, March 21, 2012

Ambon Kaya Lokasi Wisata


KOTA Ambon sering dijuluki kota ‘Manise’. Ini memang pantas berlaku karena kondisi alam kota ini yang indah. Tak heran jika Ambon, menjadi bagian dari serambi pintu wisata Timur Indonesia.
Mengenal sejarah Kota Ambon, wisatawan bisa mengunjungi Benteng Niew Victoria yang dahulu disebut Ferangi, atau Benteng Laha. Tembok tua ini dibina tahun 1575 oleh seorang bangsa Portugis bernama Sanchos Vanconcelos. Konon, di sekitar benteng pernah hidup sekelompok masyarakat yang menjadi cikal bakal orang asli Kota Ambon. Kelompok masyarakat yang dikenal saat itu dan masih ada hingga kini ialah masyarakat daerah Soa Ema, Soa Kilang, Soa Silale, Hative, dan Urimessing.
Beralih ke masa penyebaran Islam, wisatawan juga bisa berkunjung ke Desa Batumerah. Ditempat ini ada Masjid An Nur Batumerah yang menjadi saksi bisu penyebaran Islam.
Atraksi wisata lainnya ada di Desa Tawiri dekat Bandara Pattimura. Bisa dilihat monumen untuk mengingat kegigihan tentara Australia yang melawan serdadu Jepang pada 1942. Serdadu Jepang akhirnya masuk ke Ambon setelah menguasai Morotai dan Misool. Sebagai informasi, Morotai dan Misool adalah dua pulau dengan terumbu karang terindah di negeri ini.
Berjalan-jalan di kitaran Kota Ambon tidak akan membosankan bila Patung Pattimura di Lapangan Merdeka, Patung Martha Christina Tiahahu di Karang Panjang, Tugu Dolan di Kudamati, dan Tugu Trikora di Urimesing juga bisa dikunjungi. Ada pula Patung Missionaries Franciscus Xaverius di Batumeja, Monumen Rumphius di Batumeja, Museum Siwalima di Taman Makmur, Pantai Namalatu di Latuhalat, Natsepa Indah Beach di Natsepa, Pantai Santai di Latuhalat, Pintu Kota di Airlow, Gong Perdamaian Dunia (World Peace Gong), dan Goa V.O.C. Bunker di Benteng Atas.


Angin Kencang Hantam Ambon, Puluhan Rumah Warga Rusak



Angin kencang disertai hujan mengantam wilayah Kota Ambon dan sekitarnya, Minggu (18/3) pagi. Angin kencang yang terjadi sekitar pukul 03.30 WIT itu, menurut Staf Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Pattimura Ambon, I Made Dwi Wiratmadja kecepatannya mencapai stadiun maksimum 42 Knot.
Wiratmadja menjelaskan, angin kencang yang terjadi di wilayah Ambon itu, diakibatkan terjadinya perubahan cuaca atau pancaroba dari musim tropis ke musim timur, dan angin seperti itu akan masih terjadi.
“Kami tidak dapat memprediksi kapan angin kencang ini akan berhenti, karena perubahan musim pancaroba ini masih terus berlanjut,” jelasnya kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Minggu (17/3).
Wiratmadja menambahkan, dimusim pancaroba ini pertumbuhan awan secara kontentif. Selain itu, ada fenomena global di bagian selatan akibat terjadinya badai Lua mengakibatkan beberapa wilayah di Pro­vinsi Maluku, seperti Maluku Tenggara, Maluku Tenggara Barat (MTB) akan terjadi angin kecang dan gelombang yang tinggi yang bisa mencapai lima meter.
Akibat angin kencang Minggu subuh itu menyebabkan puluhan rumah di beberapa wilayah di Kota Ambon mengalami kerusakan.
Pantauan Siwalima, seperti di daerah Galunggung Kecamatan Sirimau, kurang lebih lima unit rumah warga mengalami kerusakan, satu di antaranya, yakni milik keluarga Rajap yang berlokasi di RT 003/RW 006, dimana seluruh atapnya rumahnya terlepas diterjang angin.
Sementara di Jalan Dr. Siwabessy, Batu Gantung, juga tumbang pohon besar dan menimpa kabel listrik hingga putus. Petugas Dinas Kebersihan Kota Ambon bersama warga setempat bergegas membersihkan pohon tersebut, sehingga tak menghalangi arus lintas.
Di kawasan Belakang Soya, pohon beringin tumbang dan menimpa tiang listrik yang ada di lokasi tersebut hingga roboh.
Sama halnya di Jalan Martha Crhistina Tiahahu, sejumlah pohon akasia juga tumbang menutupi badan jalan. Namun warga setempat bahu-membahu membersihkannya.
Pohon mangga juga tumbang di kawasan Bere-Bere, dan menimpah sejumlah tiang telepon hingga patah.
Pohon mangga ini menimpah dapur keluarga Fin Hehanussa, hingga mengalami kerusakan.
Tak hanya itu, di daerah Kayu Putih pohon mangga juga tumbang dan menimpa teras rumah dari keluarga Alfons.
Kapolsek Sirimau, AKP Agung Tribawanto kepada Siwalima, melalui telepon selulernya juga menuturkan, sejumlah pohon juga tumbang di kawasan Taman Makmur dan menyebabkan kerusakan pada pagar area Museum Siwalima.
Kapolsek Teluk Dalam, AKP Sarah Lessil mengungkapkan, akibat dari angin kencang tersebut menye­babkan pohon besar tumbang di kawasan Batu Koneng dan menimpa sebuah mobil angkot jurusan Poka Perumnas, sehingga kaca angkot tersebut pecah, tetapi tidak sampai melukai pengemudi.
Selain itu, satu rumah milik keluarga Nurdin Tuhuteru juga mengalami kerusakan.
Sedikitnya tiga unit rumah warga Negeri Kilang Kecamatan Leitimur Selatan juga mengalami rusak berat, masing-masing rumah keluarga Jakobis Latuheru, Jemi Latuheru dan Yopi de Fretes. Akibatnya ketiga keluarga sementara mengungsi di rumah keluarga mereka.
“Tidak ada yang korban. Kita hanya berharap ada bantuan pemerintah daerah karena ini bencana. Rumah kami semua rusak berat dan sekarang tinggal di rumah saudara,” ujar salah satu korban, kepada Siwalima.
Tak hanya di negeri Kilang, satu dapur milik keluarga A Salamena di Negeri Hatalai juga mengalami kerusakan serta toko milik Keluarga A Ririhena juga rusak berat.
Akibat angin kencang menyebabkan pemadaman listrik di Kota Ambon, dan sekitarnya.
Turunkan Penumpang di Yos Sudarso
Cuaca ekstrim yang melanda wilayah Kota Ambon berdampak pula pada aktivitas KM. Elisabeth, yang akhirnya terpaksa menurunkan penumpang, Minggu (18/3) subuh di Pelabuhan Yos Sudarso.
“KM Elisabeth tambat di Pelabuhan Yos Sudarso karena situasi dermaga Pelabuhan Slamet Riyadi terjadi angin kencang yang disertai dengan arus yang kencang pula sehingga KM Elisabeth terpaksa bersandar di Pelabuhan Yos Sudarso,” jelas Kapolsek KP3, Gulham Nabi Pasaribu kepada Siwalima, Minggu (18/3).
“Jumlah penumpang yang diturunkan sebanyak 143 orang di Pelabuhan Yos Sudarso dengan muatan sebanyak 2 ton. Tetapi semua dalam keadaan baik dan situasi aman terkendali,” jelasnya lagi.
Setelah seluruh penumpang diturunkan dan cuaca telah membaik, KM. Elisabeth kembali ke Pelabuhan Slamet Riyadi.

Minta Gubernur Fasilitasi ke Jakarta - Gerakan Solidaritas Jhon Kei Gelar Demo



Puluhan warga yang mengatasnamakan Gerakan Solidaritas Keluarga Besar Jhon Kei Refra di Ambon Maluku menuntut agar Gubernur Maluku, KA Ralahalu, dapat memfasilitasi perwakilan keluarga di Ambon-Maluku untuk ke Jakarta menyampaikan aspirasi dan bertemu dengan pimpinan tertinggi polisi di Mabes Polri maupun Polda Metro Jaya.
Tuntutan itu disampaikan para pendemo yang dikoordinir oleh Baltazar Ratuanik saat ber­demonstrasi di kantor Gubernur Maluku, Senin (19/3).
Para pendemo dalam orasinya menyampaikan ketidakpuasan terhadap proses hukum yang dilakukan terhadap Jhon Kei Refra di Jakarta.
Kepala Badan Kesbangpol Maluku, AR Uluputty didampingi Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease AKBP Suharwiyono menemui pendemo, namun ditolak karena pendemo hanya ingin bertatap muka dengan Gubernur Maluku. Tak lama setelah melakukan negosiasi dengan pendemo, Uluputty dan Kapolres kemudian bertemu gubernur menyampaikan keinginan pendemo.
Perwakilan pendemo sebanyak 10 orang kemudian diizinkan masuk ke ruang rapat lantai II bertemu langsung dengan gubernur untuk menyampaikan aspirasi mereka.
Ratuanik selaku korlap dihadapan, gubernur mengatakan masyarakat besar terutama keluarga Jhon Kei Refra menginginkan adanya kepastian hukum dalam penanganan kasus ini.
Olehnya itu, Gubernur diminta agar dapat memfasilitasi perwakilan dari Maluku untuk bertemu dengan pihak-pihak terkait di Jakarta sekaligus menyampaikan aspirasi masyarakat dan keluarga sehingga masalah ini tidaklah membias.
Hal yang sama pula diungkapkan Rafi Retraubun, yang meminta agar Gubernur dapat memberikan masu­kan kepada Kapolri dan Polda Metro Jaya memperjelas proses hukum yang sementara di tegakan kepada Jhon Kei Refra. Apalagi selama ini sudah banyak opini yang berkembang di masyarakat termasuk pernyataan gubernur beberapa waktu lalu di media.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur, KA Ralahalu menyatakan aspirasi yang disampaikan akan menjadi tanggung jawab pemda dan akan dikoordinasikan dengan Kapolri dan Polda Metro Jaya melalui jalur-jalur yang dapat dilalui.
“Apa yang disampaikan akan jadi perhatian pemda dan akan dikoordinasikan dengan Kapolri dan Polda Metro Jaya lewat jalur-jalur yang bisa dilalui. Saya itu kenal Jhon Kei dan saya tidak pernah mengeluarkan kata memalukan Maluku. Itu tidak benar,” tukas Gubernur yang saat itu didampingi Kepala Kesbangpol, AR Uluputty; Kapolres Pulau Ambon dan PP lease, AKBP Suharwiyono; Asisten I Sekda Maluku, Angky Renyaan dan Asisten III Sekda Maluku, Anthonius Sihalolo.
Gubernur juga meminta maaf kepada perwakilan pendemo dan menyatakan persoalan ini untuk tidak lagi dipolemikan.
Usai menyampaikan aspirasi itu, perwakilan pendemo kemudian keluar ruang rapat dan bergabung dengan pendemo lainnya serta selanjutnya membubarkan diri.
Sementara itu, pernyataan sikap pendemo yang salinannya diperoleh Siwalima diantaranya: Pertama, Me­nuntut Jhon Kei Refra dibebaskan karena tidak bersalah sesuai fakta hukum; Kedua, Mengutuk perbuatan Heri Heryawan yang secara sengaja melakukan tindak pidana menembak kaki Jhon Kei Ferfa sebagai upaya balas dendam karena kekesalan pribadi;
Ketiga, Mendesak Kapolri membentuk Tim Investigasi guna mengusut pelanggaran prosedural proses penangkapan Jhon Kei Refra oleh Polda Metro Jaya sekaligus menghukum Heri Heryawan atas kesala­hannya karena kami yakin dan percaya Bapak Kapolri sangat bijak dan tidak akan membela dan melindungi kesalahan anak buah yang melanggar HAM;
Keempat, Mendesak Kapolri agar memperhatikan secara serius Kapolda Metro Jaya dalam mengemban tugas Negara memproses hukum atau proses penyelidikan dugaan tindak pidana yang dilakukan Jhon Kei Refra dengan mengedepankan asas praduga tidak bersalah bukan sebaliknya dengan kekuasaan sewenang-wenang dengan sadar dan sengaja melanggar hak asasi manusia Jhon Kei Refra. Dimana secara paksa memeriksa, menginterogasi tersangka dalam keadaan tidak sehat rohani dan jasmani (keadaan sakit kakinya bengkak karena sengaja ditembak oleh oknum polisi) dengan dalih guna memper­cepat penyelesaian masalah tersebut;
Kelima, Meminta Kapolri untuk memperhatikan hak tersangka Jhon Kei Refra yang sedang sakit untuk dirawat kembali di RS Polri sampai sembuh dengan mengedepankan faktor kemanusiaan dan tidak di­paksakan tersangka yang tidak sehat rohani dan jasmani dalam proses BAP perkara pidana sesuai keten­tuan perundang-undangan yang berlaku;
Keenam, Meminta Komnas HAM perwakilan Maluku untuk turut memperjuangkan aspirasi Keluarga Jhon Kei di Maluku ke Komnas HAM di Jakarta agar segera membentuk tim investigasi penembakan kaki Jhon Kei Refra oleh Heri Heryawan anggota Polri Polda Metro Jaya yang secara nyata melangkahi prosedur dan dikatagorikan perbiatan tindak pidana penganiayaan dan pelanggaran HAM;
Ketujuh, Menyarankan Gubernur Maluku, KA Ralahalu menggunakan hati nurani sebagai bagi semua suku di Maluku maupun warga asal Maluku di tanah rantau agar menjadi pelindung dan pengayom tanpa diskriminasi dalam hal perhatian kasih seorang bapak guna meluangkan waktu menghimbau pihak kepolisian dalam proses hukum dengan merujuk hukum sebagai pijakan dalam proses penyelesaian masalah salah satu warga asal Maluku, Jhon Kei Refra agar hak asasinya tidak dilanggar dengan sengaja karena kekuasaan.
Sebagaimana diketahui, pernyataan gubernur yang sempat dipolemikan tersebut disampaikan kepada sejumlah wartawan usai gubernur menghadiri acara silahturahmi dan sosialisasi dengan masyarakat Maluku di anjungan Maluku di Taman Mini Indonesia Indah (TMII)-Jakarta, Sabtu (18/2).
Dalam sambutan pada acara tersebut, gubernur memang tidak pernah mengeluarkan satu pernyataan ter­sebut menyangkut penangkapan tersebut. Namun kemudian setelah acara usai, sejumlah wartawan melakukan wawancara di halaman anjungan Maluku. Wawancara sebanyak dua kali di halaman anjungan Maluku dan diikuti sejumlah wartawan media nasional di Jakarta. Beberapa media nasional televisi maupun online bahkan sudah merilis pernyataan tersebut sejak Sabtu (18/2) hingga Minggu (19/2), mendahului Siwalima yang baru merilisnya Senin (20/2).
Kendati demikian, gubernur sudah menyampaikan klarifikasi sebagaimana disampaikan Kabag Humas Setda Provinsi Maluku, DN Kaya kepada redaksi Siwalima, Selasa (21/2) lalu
Poin klarifikasi yang disampaikan Kaya yaitu Gubernur sama sekali tidak pernah membuat pernyataan yang sedemikian. Tidak pernah ada pernyataan dari Bapak Gubernur Maluku yang mendiskreditkan Kelompok Pemuda Jhon Kei, terlebih lagi etnis kei atau etnis manapun.
Kronologisnya sesuai klarifikasi tersebut bahwa setelah selesainya acara silahturahmi dan sosialisasi dengan masyarakat Maluku di Jakarta tersebut, sejumlah wartawan nasional menanyakan kepada gubernur soal penangkapan Jhon Kei, tanggapan gubernur bahwa beliau menghimbau kepada semua pihak, mengingat saat ini secara umum kondisi dan stabilitas Keamanan Maluku telah kondusif menjelang pelaksanaan MTQ Nasional di Kota Ambon, oleh sebab itu dimintakan agar seluruh masyarakat Maluku di manapun berada, termasuk di Jakarta agar tetap menjaga citra dan stabilitas Maluku. Ini adalah tanggung jawab moral kita secara bersama-sama menjaga nama baik dan pencitraan Maluku di level nasional, bahkan internasional. Terkait dengan pemberitaan media massa bahwa ada per­nyataan gubernur yang dianggap mendiskreditkan, bahkan menyinggung perasaan masyarakat kei, perlu dijelaskan bahwa gubernur sama sekali tidak pernah membuat pernyataan yang sedemikian dalam pidatonya.

Wednesday, December 14, 2011

Bermain Permainan Bambu Gila ala Ambon


Bambu gila adalah sebuah permainan rakyat dari warga Maluku. Permainan ini melibatkan kekuatan gaib untuk menjalankannya, walaupun tidak diperlukan ritual tertentu. Permainan ini cukup sederhana yakni beberapa orang dewasa cukup mendekap sebatang bambu secara bersama-sama. Lama-kalamaan bambu tersebut terasa berat hingga orang-orang tersebut berjatuhan ketanah,orang tersebut merasa bambu tersebut menjadi liar dan tidak ingin dipegang.
Permainan ini biasa di mainkan di tepi pantai sambil diiringi dengan musik perkusi

sumber : http://ambonbox.com/acara-seru/seni-hiburan/bermain-permainan-bambu-gila-ala-ambon/

PAPEDA makanan khas Ambon



Cara Membuat Papeda :
1. cairkan tepung sagu dengan 300 cc air, tempatkan di panci
2. tambahkan garam dan gula
3. didihkan sisa air (700 cc)
4. tuang air mendidih tadi ke dalam panci yang berisi larutan
sagu…aduk sehingga sagu matang merata.
5. kalau masih belum rata matangnya bisa dijerang diapi yang sangat
kecil sambil terus diaduk.
6. sagu dikatakan sudah matang jika kalau sudah berwarna bening
semua…kalau masih ada yg berwarna putih susu..berarti belum matang.
7. penampakan papeda ini mirip dengan lem yg dibuat dr kanji…atau
ongol2, hanya ongol2 berwarna coklat (karena diberi gula merah).

Cara Membuat Ikan Kuah Kuning :
1. ikan dibersihkan lumuri dengan garam dan jeruk nipis. sisihkan
2. haluskan bw merah, bw putih, kunyit, jahe , kemiri, kenari dan cabe
merah.
3. tumis bumbu halus tadi hingga harum , masukan daun salam sereh. dan
tomat.
4. tambahkan 700 cc air, biarkan mendidih
5. masukan ikan tambahkan garam,gula dan cabe rawit utuh, masak bebrapa
menit dgn api besar…
kemudian kecilkan api masak kembali hingga ikan matang.
6. tambahkan daun kemangi dan 1 sdm jeruk sebelum diangkat.
7. kuah ikan siap dinikmati dgn papeda.

Cara Makan Papedanya^^…

1. papeda disajikan di piring yang cekung (bisa aja sikh pake mangkuk,
tapi didaerah asalnya disajikan dipiring cekung).
2. taruh secukupnya kuah ikan kedalam piring tsb, kemudian ambil papeda
dan masukan ke dalam piring tsb.
3. papeda kuah ikan siap dinikmati.
4. papeda enak disantap saat dlm keadaan panas…hmmm nyuummm…pedes
suegerr (karena ada rasa asamnya).

sumber : http://www.indowebster.web.id/showthread.php?t=5216&page=1

Tari cakalele dari Ambon


Cakalele merupakan tarian tradisional Maluku yang dimainkan oleh sekitar 30 laki-laki dan perempuan. Para penari laki-laki mengenakan pakaian perang yang didominasi oleh warna merah dan kuning tua. Di kedua tangan penari menggenggam senjata pedang (parang) di sisi kanan dan tameng (salawaku) di sisi kiri, mengenakan topi terbuat dari alumunium yang diselipkan bulu ayam berwarna putih. Sedangkan penari perempuan mengenakan pakaian warna putih sembari menggenggam sapu tangan (lenso) di kedua tangannya. Para penari Cakalele yang berpasangan ini, menari dengan diiringi musik beduk (tifa), suling, dan kerang besar (bia) yang ditiup. Tari Cakalele disebut juga dengan tari kebesaran, karena digunakan untuk penyambutan para tamu agung seperti tokoh agama dan pejabat pemerintah yang berkunjung ke bumi Maluku. Keistimewaan tarian ini terletak pada tiga fungsi simbolnya. (1) Pakaian berwarna merah pada kostum penari laki-laki, menyimbolkan rasa heroisme terhadap bumi Maluku, serta keberanian dan patriotisme orang Maluku ketika menghadapi perang. (2) Pedang pada tangan kanan menyimbolkan harga diri warga Maluku yang harus dipertahankan hingga titik darah penghabisan. (3) Tameng (salawaku) dan teriakan lantang menggelegar pada selingan tarian menyimbolkan gerakan protes terhadap sistem pemerintahan yang dianggap tidak memihak kepada masyarakat.

sumber : http://www.budaya-indonesia.org

Tuesday, December 13, 2011

Negeri Soya Dan Adat Cuci Negeri sebuah mozaik budaya Maluku

Teung-Teung ini seharusnya berjumlah 14 (empat belas) buah, dua diantaranya masih perlu diselidiki. Diantara teung-teung yang ada, ada dua tempat yang mempunyai arti tersendiri bagi anggota-angota clan tersebut yakni;

Baileo Samasuru, yaitu tempat mengadakan rapat dan berbicara.
Tonisou, yaitu suatu perkampungan khusus bagi Rumah Tau Rehatta yang di dalamnya disebut sebuah Teung.

Beberapa diantara rumah Tau tersebut tidak lagi menetap di negeri Soya, begitu pula Negeri kecil yang pernah ada telah hilang disebabkan beberapa faktor dan perkembangan yang terjadi didalam masyarakatnya.
Raja Soya yang pertama adalah "latu Selemau" dan isterinya bernama Pera Ina. Dibawah pemerintahan Latu Selemau, Negeri Soya (termasuk 9 negeri kecil yang berada dibawah kekuasaanya), merupakan suatu kesatuan besar, Dalam masa kebesarannya, Latu Selemau dianugerahkan beberapa gelar yang lebih agung yang merupakan bukti kebesarannya ialah : "LATU SELEMAU AGAM RADEN MAS SULTAN LABU INANG MOJOPAHIT" Gelar ini berkenan dengan hubungan dagang, bahkan perkawinan dengan orang-orang dari Kerajaan Majapaahit.

SISTEM PEMERINTAHAN NEGERI
Sistem pemerintahan negeri Soya pada mulanya merupakan sistem Saniri Latupati yang terdiri dari :

Upulatu (Raja);
Para Kapitan;
Kepala-kepala Soa (Jou), Patih dan Orang Kaya;
Kepala Adat (Maueng);
dan Kepala Kewang,



Saniri Latupati dilengkapi dengan "Marinyo" yang biasanya bertindak sehari-hari sebagai yang menjalankan fungsi hubungan masyarakat yang dikenal sekarang dengan nama HUMAS (Hubungan Masyarakat) dan pembantu bagi badan tersebut. Saniri Latupati dapat dianggap sebagai Badan Eksekutif pada saat ini.
Saniri Besar, yaitu persidangan besar yang biasanya diadakan sekali setahun atau bila diperlukan. Persidangan Saniri Besar dihadiri oleh Saniri Latupati dan semua Laki-laki yang telah dewasa dan orang-orang tua yang berada dan berdiam di dalam negeri Soya. Persidangan Saniri Besar merupakan suatu bentuk implementasi sistem demokrasi langsung.
Dalam perkembangannya, kemudian dibentuk pula Saniri Negeri yang terdiri dari Saniri Latupatih ditambah dengan unsur-unsur yang ada dalam negeri. Misalnya : Pemuda, dan organisasi-oraganisasi dari anak negeri yang ada. Persidangan Saniri Negeri dapat di anggap sebagai persidangan legislatif.

Kondisi Geografis Negeri Soya

Negeri Soya adalah sebuah Negeri Adat, terletak di pinggir Kota Ambon, dengan puncak Gunung Sirimau sebagai Icon-nya. Negeri ini berada di ketinggian lebih kurang 464 Meter dari permukaan laut.

Berbatasan; sebelah Timur dengan Negeri Hutumury dan Negeri Passo; sebelah Barat dengan Negeri Halatay; sebelah selatan dengan Negeri Naku dan Ema; dan sebelah Utara dengan Laut Teluk Ambon. Suhu udara pada umumnya berkisar antara 20 derajat - 30 derajat Celcius. Untuk mencapai Negeri Soya dapat digunakan kendaraan jenis apapun dengan kondisi jalan yang berliku-liku namun mulus, dengan jarak kurang lebih 4 Km dari pusat Kota Ambon.
Sejumlah kekayaan peninggalan sejarah seperti Gereja Soya, memberi nilai tersendiri bagi negeri ini. Letak Gereja Tua Soya yang selama ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya, berada di tengah-tengah Negeri Soya, merupakan tempat yang sangat strategis karena berdampingan dengan sekolah dan Balai Pertemuan serta Rumah Raja. Sebagai Negeri yang kaya dengan nilai budaya dan adat istiadat, Negeri Soya merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Maluku. Situs Gereja Tua Soya adalah salah satu tempat yang selama ini paling banyak dikunjungi oleh wisatawan dalam maupun luar negeri, disamping tempat-tempat lain seperti;Tempayang yang selalu berisi air walaupun tidak hujan yang berada di tengah puncak Gunung Sirimau.
Secara Topografis, Negeri Soya berbukit-bukit yang merupakan gejala morpologis. Keadaan demikian menjanjikan kesuburan tanah yang dapat diusahakan dengan tanaman buah-buahan dan tanaman umur panjang lainnya. Dengan Letaknya di ketinggian daerah pegunungan serta curah hujan yang cukup tinggi, maka Negeri Soya memiliki hutan yang subur, dengan ditumbuhi aneka ragam tanaman dan tumbuh-tumbuhan liar. Semua sungai/kali yang bermuara di pantai Teluk Ambon mulai dari Waihaong sampai ke pantai Passo, bersumber di lereng-lereng Gunung Sirimau dari petuanan Negeri Soya.

Budaya dan Agama

Penduduk Negeri Soya adalah masyarakat yang ramah dan religius, dengan gotong royong sebagai ciri khas masyarakat negeri penghasil durian dan salak ini. Nilai-nilai adat dan budaya seperti : Naik Baileo, cuci air, kain gandong, naik ke gunung Sirimau, selalu terpelihara dengan baik dan merupakan sebuah tradisi budaya yang telah menjadi Icon negeri dari turun temurun hingga saat ini.
Sebelum kedatangan bangsa Portugis di Maluku, Negeri Soya merupakan sebuah kerajaan yang berdaulat dengan wilayah kekuasaan meliputi, Teluk Ambon sampai ke Passo, Pesisir Pantai Timur sampai Selatan Jazirah Leitimor, dibawah pemerintahan Raja yang terkenal saat itu yakni “Latu Selemau” dengan Panglima Perangnya “Kapitan Hauluang” . Raja dan Panglima perang ini dibantu kapitan-kapitan kecil sebagai kepala pasukan tombak, panah, dan parang salawaku, dengan kekuatan 300 orang prajurit yang didukung oleh kurang lebih 1000 orang rakyat.
Hubungan dagang kerajaan Soya dengan Hitu, Ternate, dan Tidore bahkan Raja-Raja Goa terjadi pada akhir abad 14 saat Kerajaan Mojopahit telah pudar kekuasaannya dan kerajaan Islam mulai tumbuh. Bersamaan dengan itu, masuklah Armada Portugis yang menjadikan Kerajaan Soya kurang dipengaruhi oleh budaya Hindu maupun Islam.
Masyarakat Negeri Soya ternyata tidak menerima kedatangan bangsa Portugis yang bertujuan untuk melakukan perdagangan rempah-rempah. Rakyat Negeri Soya kemudian mengangkat senjata melawan Portugis. Perlawanan masyarakat tersebut dipimpin oleh tujuh anak Latu Selemau yang menguasai Soa Ahuseng, Soa Amangtelu, Soa Uritetu, Soa Labuhan Honipopu, dan Soa Atas. Perlawanan ini ternyata tidak membuahkan hasil. Kerajaan Soya takluk kepada Portugis. Kekalahan ini berhasil merubah wajah dan status Negeri Soya dari sebuah kerajaan yang berdaulat menjadi bagian dari daerah yang dikuasai oleh Portugis. Rakyatnya kemudian diinjili dan dibaptis oleh Fransiscus Xaverius dan menjadikan orang Soya beragama Kristen Katolik. Orang Soya yang tidak mau menyerah terus bertahan di puncak Gunung Sirimau. Mereka hidup terisolir serta tidak mempunyai hubungan dengan kerajaan lainnya.
Pada tahun 1605 armada VOC dibawah Pimpinan Steven vander Hagen memasuki labuhan Honipopu dan menyerang Benteng Portugis dari arah laut serta mengambil alih Benteng Portugis dan diberi nama VICTORIA. Kemenangan VOC atas Portugis membuka peluang bagi disebarkannya paham agama Kristen Protestan oleh Pendeta-Pendeta VOC. Hasilnya adalah, banyak orang Kristen Katholik beralih menjadi Kristen Protestan.
Kegiatan penginjilan ini dikaitkan dengan kepentingan VOC dalam menegakkan kekuasaan kolonial di Pulau Ambon. Dengan hak-hak istimewa yang mereka miliki dari Kerajaan Belanda, mereka gunakan untuk mengangkat pegawai asal pribumi termasuk juga mendidik dan menthabiskan pendeta baru asal pribumi untuk kepentingan penginjilan diantaranya; Lazarus Hitijahubessy yang diutus ke Negeri Soya untuk menyebarkan Injil pada tahun 1817. Melalui penginjilannya, Negeri Soya menjadi Kristen. Pengkristenan ini, ternyata berpengaruh terhadap adat-istiadat masyarakat Negeri. Secara adaptif nilai-nilai Kristiani dimasukan ke dalam adat maupun upacara adat seperti Rapat Negeri, Kain Gandong, Naik Baileo, Cuci Air, Cuci Negeri, naik ke puncak Gunung Sirimau dan Pesta Bulan Desember sebagai tanda persiapan/ penyambutan Natal Kristus.
Gedung Gereja Tua Soya walaupun bentuknya yang sederhana, namun telah memberikan andil bagi sejarah Pekabaran Injil di Maluku, khususnya di Negeri Soya. Kekristenan di Negeri Soya harus diakui tidak dapat dilepaskan dari hadirnya Joseph Kham yang bertemu dengan orang-orang Kristen di Negeri Soya pada tahun 1821. Jika digambarkan dalam angka, maka perkembangan kekristenan pada saat itu adalah sebagai berikut : Anggota Sidi : 22 orang, Anggota Babtis Dewasa : 21 orang, Anak Sekolah : 10 orang, Anak di luar Sekolah : 7 orang, dan Anak yang dibabtis : 1 orang.
Dari angka tersebut di atas dapat dikatakan bahwa proses pekabaran Injil di Negeri Soya ternyata berjalan lambat. Hal ini disebabkan karena masyarakat Soya yang masih terisolir, dan karenanya tidak mudah menyerahkan diri untuk dibaptis sebagai akibat peperangan dengan Bangsa Portugis. Faktor lain adalah, angka kelahiran yang sangat rendah disamping kehidupan sosial ekonomi.. Namun, harus diakui kedatangan Joseph Kham merupakan angin baru bagi penginjilan di Maluku termasuk Soya, yang menjadikan jumlah pemeluk Agama Kristen dari waktu ke waktu terus bertambah.
Dalam kaitannya dengan penyebaran Agama Kristen di Maluku, Gedung Gereja Soya sebenarnya mempunyai catatan sejarah tersendiri. Pertumbuhan Gedung Gereja Soya pada awalnya tidak diketahui. Untuk menampung kebutuhan kegiatan ibadah, pada tahun 1876 Raja Stephanus Jacob Rehatta memimpin orang Soya untuk memperbaiki serta memperluas bangunan Gereja secara semi permanen yang dipergunakan sampai tahun 1927. Pada masa pemerintahan Leonard Lodiwijk Rehatta, Gedung Gereja Soya yang diperbaharui tahun 1927, pada tahun 1996 kembali dipugar dan atau direstorasi dibawah panduan Bidang Museum Sejarah dan Kepurbakalaan Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Maluku. Hasil ini hanya bertahan hingga 28 April 2002 saat Negeri Soya diserang oleh kaum perusuh yang mengakibatkan korban jiwa meninggal 11 orang, 12 orang luka berat, dan sejumlah lain luka ringan, disamping 22 buah rumah hangus terbakar rata dengan tanah, dan Gedung Gereja Tua Soya yang telah menjadi Bangunan Cagar Budaya. Gereja Tua Soya kemudian berhasil dibangun kembali dan diresmikan oleh Ketua Sinode GPM Dr. Chr. J. Ruhulessin, M.Si dan Gubernur Maluku, Karel Albert Ralahalu.

Asal Mula Upacara Adat Cuci Negeri

Menurut sumber yang ada, pada waktu dulu upacara adat cuci negeri berlangsung selama lima hari berturut-turut. Segera setelah musim Barat (bertiupnya angin barat) yang jatuh pada bulan Desember, Upacara cuci negeri dimulai. Mereka percaya bahwa dengan bertiupnya angin barat, akan membawa serta datuk-datuk. Pada malam hari menjelang hari pertama dengan dipimpin oleh “Upu Nee” (initiator), para pemuda berkumpul di Samorele. Mereka mengenakan “cidaku” (Cawat), sedangkan mukanya dicat hitam (guna penyamaran), sebaliknya, semua wanita dilarang keluar rumah.
Para pemuda dengan dipimpin oleh Upu Nee menuju ke Sirimau tempat bersemayam Upulatu yang didampingi oleh seekor Naga. Upu Nee berjalan mendahului rombongan dan memberitahukan Upulatu bahwa, para pemuda akan datang dari clan-clan dimana mereka berasal.
Menjelang tengah malam, para pemuda yang ada didudukan dalam posisi bertolak belakang. Dalam keadaan seperti itu, datanglah Naga menelan mereka, dan menyimpan mereka selama lima hari dalam perutnya. Pada tengah hari pada hari kelima, Naga kemudian memuntahkan mereka. Masing-masing orang dari mereka kemudian menerima tanda, suatu lukisan berbentuk segi tiga pada dahi, dada, dan perut. Sementara itu, para wanita dan orang-orang tua telah membersihkan Samasuru dan Negeri.
Menjelang tengah hari, turunlah Upulatu bersama pemuda-pemuda tadi dari tempat Naga menuju Samasuru. Di sana, keluarganya telah menunggu. Dalam prosesi tersebut, lagu-lagu tua dan suci dinyanyikan (suhat) Raja / Upulatu mengambil tempat pada batu tempat duduknya (PETERANA) dan berbicaralah Raja dari tempat itu (Batu Stori Peterana) sambil menengadahkan mukanya ke Gunung Sirimau.
Sejarah mengenai jasa-jasa, pekerjaan-pekerjaan besar dari para datuk-datuk, sifat kepahlawanan mereka diceritakan kepada semua orang yang sedang berkumpul. Permohonan-permohonan dinaikan kepada Ilahi (dalam bentuk KAPATA) yang antara lain berkisa kepada penyelamatan negeri Soya beserta penduduknya dari bahaya, penyakit menular, dan mohon kelimpahan berkah, Taufik dan Hidayat-Nya kepada semua orang. Selesai ini semua, semua orang pun berdiri dan dua orang wanita (Mata Ina) yang tertua dari keluarga (Rumah Tau), Upulatu melilitkan sebuah pita yang berwarna putih melingkari orang itu (Kain Gandong Sekarang).
Dari cerita tua ini, nampak jelas pengaruh dari Upacara Tanda ala KAKEHANG di Seram Barat. Dapat ditarik kesimpulan bahwa pada waktu dulu upacara adat di Baileo (Samasuru) dilakukan untuk merayakan lulusnya para pemuda yang lulus dari upacara initiati di puncak Gunung Sirimau tersebut. Kemudian setelah masuknya agama Kristen yang dibawa oleh orang Portugis dan Belanda, maka penyelenggaraan upacara ini mengalami perubahan bentuk. Selanjutnya dengan cara evolusi yang terjadi di dalam masyarakat yang meliputi segi pendidikan, kerohanian, sosial, dan lain-lain, sebagaimana penyelenggaraannya dalam bentuk sekarang.


Maksud Dan Tujuan

Maksud dari penyelenggaraan dan perayaan upacara adat tiap tahun di Negeri Soya oleh penduduk serta semua orang yang merasa hubungan kelaurganya dengan Negeri Soya bukan semata-mata didasarkan oleh sifatnya yang tradisionil, tetapi lebih dari itu, dimaksudkan untuk memelihara, dan atau menghidupkan secara terus menerus kepada generasi sekarang maupun yang akan datang, berkenaan dengan, sifat dan nilai-nilainya yang positif.
Tidak dapat disangkal bahwa dari keseluruhan upacara adat ini, terdapat sejumlah hal penting antara lain: Persatuan, musyawarah, gotong royong, kebersihan, dan toleransi. Unsur-unsur tersebut di atas yang menjadikan upacara adat cuci negeri dapat bertahan sampai saat ini. Maksud perayaan penyelenggaraan setiap kali menjelang akhir tahun tersebut dapatlah dijelaskan sebagai berikut :
Bahwa datuk-datuk/para leluhur dahulu memilih waktu pelaksanaan upacara adat tersebut tepat di bulan Desember , saat permulaan musim barat (waktu bertiup angin darat). Menurut kepercayaan mereka pada waktu itu, arwah leluhur biasanya kembali dari tempat-tempat peristirahatannya ke tempat-tempat dimana mereka pernah hidup. Disamping itu, ada kepercayaan bahwa sehabis musim timur/hujan, biasanya keadaan yang diakibatkan selama musim hujan itu sangat banyak, antara lain : tanah longsor, rumah-rumah bocor, pagar dan jembatan rusak, sumur-sumur menjadi kotor dan banyak lagi hal-hal lain yang harus dibersihkan, dibetulkan, diperbaharui.
Untuk membenahi hal-hal yang diakibatkan oleh kejadian alam tersebut, maka para datuk-datuk menyelenggarakan upacara serta aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan penataan negeri dari berbagai kerusakan yang terjadi.
Dengan masuknya agama Kristen yang dibawa oleh Bangsa Barat, maka beberapa hal yang berbau animisme dan dinamisme ditanggalkan dan disesuaikan dengan ajaran Kristen seperti: meniadakan persiapan-persiapan untuk menyambut arwah-arwah leluhur. Makna kegiatan ini juga kemudian dikaitkan dengan ajaran Kristen dalam kaitannya dengan persiapan-persiapan perayaan Natal. Makna dari cuci negeri ini lebih ditonjolkan dengan maksud untuk mempersiapkan masyarakat dalam menyambut Anak Natal.
Upacara cuci negeri dengan demikian lebih bersifat menyucikan diri dari perasaan perseteruan, kedengkian, curiga-mencurigai (Simbolnya pada : turun mencuci tangan, kaki, dan muka di air Wai Werhalouw dan Unuwei). Dari segi keagamaan, penyelenggaraan ini yang kebetulan berlangsung pada awal bulan Desember mempunyai makna yang luas dalam menyongsong dan menyambut hari Raya Natal, Kunci Tahun dan Tahun Baru. Kesibukan di hari-hari ini sekaligus merupakan hari-hari atau minggu advent untuk persiapan perayaan hari raya berikutnya dengan keadaan yang cukup baik.

Upacara Adat Cuci Negeri

Sejak dahulu Negeri Soya telah terkenal dengan Upacara Adat “Cuci Negeri”. Upacara ini menarik perhatian banyak wisatawan baik dalam maupun luar negeri, serta para ilmuan. Seorang Anthropolog Amerika, Dr. Frank Cooley telah menyelesaikan disertasinya yang berjudul “Altar and Throne in Central Moluccan Societies” untuk mencapai gelar Doktor dengan mempergunakan banyak sekali data-data dari upacara adat tersebut.
Adapun proses jalannya upacara adat “Cuci Negeri” dapat dijelaskan sebagai berikut :

o Rapat Saniri Besar
o Pembersihan Negeri
o Naik ke Gunung Sirimau dan Matawana
o Turun dari Gunung Sirimau dan Penyambutan di Rulimena
o Upacara Naik Baileo Samasuru
o Kunjungan ke Wai Werhalouw dan Uniwei
o Persatuan dalam Kain Gandong
o Kembali Ke Rumah Upulatu (Raja)
o Pesta Negeri
o Cuci Air

Foto Desember 2011








Sumber: http://allaboutmoluccas.blogspot.com/negeri-soya-dan-adat-cuci-negeri-sebuah.html

NAMA MARGA SUKU MALUKU

Daftar di bawah ini memuat beberapa marga Ambon.



A

Abednego, Abel, Abaroea atau Abarua, Abraham, Abrahams, Abrahamsz, Acher, Ademiar, Adeo, Adjahary, Adolf, Adonis, Adrian, Adrianz, Adrians, Adriaansz, Adrianus, Adtjas, Afaratu, Afdan, Afflu, Afitu, Aghogo, Agudjir, Agustinus, Agustis, Agustyen, Ahab, Ahad, Ahar, Ahiyate, Ahlaro, Ahnary, Ahudora, Ahver, Aihery, Ailerbitu, Ailerkora, Ainoli, Aipassa, Airory, Aitonam, Akasian, Akbar, Akel, Akerina, Akiaar, Akiari, Akiary, Akihary, Akipu, Aklafin, Akohillo, Akollo, Akse, Aktalora, Akyuwen (baca:Akiwen), Alain, Alakaman, Alamon, Alaslan, Alatubir, Alberthus, Albram, Alexander, Alfanay, Alfaris, Alfons, Alicaris, Aliputty, Alkatiri, Alkoteri, Allo, Aloon (baca:Alon), Alopy, Aloumoly, Alputila, Alvarisi, Alviaro, Alwen, Alwer, Alwy, Alyeru, Alyona, Amahoru, Amamaran, Aman, Amahorseya, Amanapunyo, Amaral, Amarduan, Ambar, Amergebi, Ameth, Amorhosea, Amos, Ambrosilla, Amunnopunjo, Amuntoda, Anakotta, Anakotapary, Anamova, Anas, Andea, Andies, Andres, Andrias, Andries, Angelbert, Angels, Angganois, Anggoda, Angkotta, Angkotamony (baca:Angkotamoni), Angkotasan, Angky, Angwarmase, Aninjola, Ansora, Anthonio, Anthony, Antormase, Apalem, Apalen, Apanath, Apang, Apitula, Apituley, Aponno, Apopits, Aprian, Aramuda, Araben, Arbol, Arends, Areros, Argueble, Aries, Aristarkus, Arjesam, Armando, Arnes, Arlooy (baca:Arloy), Aronds, Aropa, Aroran, Artafella, Arts, Arun, Asbay, Aschab, Asohorty, Asry, Assel, Astan, Asthenu, Aswaly, Asyeram, Atapary, Atbar, Atiby, Atihuta, Attamimi, Aucheyeny, Augustyn, Aunalal, Auratu, Aurima, Aurmartin, Awear,Awirano,Ayal, Ayawaila, Ayhery, Ayhuan, Ayuba,



B

Bachta, Bacory, Badelwair, Badmas, Baersady, Bager, Bahrid, Bairatnissa, Bairo, Bakarbessy, Bakker, Bakridi, Ballan, Bally, Balryan, Balsala, Balthazar, Balvid, Bamatrao, Bämfer, Baora, Baragain, Baransano, Barendz, Bareto, Barfeny, Barger, Barkeij, Barlola, Barloy, Barmella, Barons, Barry, Bartolomeus, Barutressy, Basafin, Basalamah, Basry, Basteirn, Bastian, Batceran, Batcori, Batdjedelik, Batfeny, Batfian, Batfin, Batfyor, Batho, Batidas, Batlajery, Batlyel, Batlyeware, Batserin, Batsira, Batsyory, Battisina, Batto, Batuwael, Batwael, Batyefwal, Bauwens, Bazari, Bazergan, Beay, Beffers, Belay, Belder, Belegur, Belen, Beljaky, Beljeur, Belmin, Belnard, Belseran, Belson, Belwain, Benlas, Benamen, Benedijk, Benjamin, Benson, Bento, Benyernakor, Berhitoe atau Berhitu, Bernadus, Bernhard, Bernard, Bernts, Bersaby, Bersalei, Beruat, Besan, Betaubun, Betoky, Bianchi, Biet, Bille, Binbaso, Binnendijk, Binsye, Birahy, Blijlevens, Blukora, Bochi, Boften, Boger, Boina, Boinsera, Boky, Bolisara, Bonara, Bonsalya, Boogart, Borges, Borlak, Bormassa, Borrel, Borolla, Borut, Bosko, Bothmir, Botter, Breekland, Bremeer, Bria, Bruhns, Bruigom, Buano, Buarlely, Builder, Buiswarin, Bukop, Buloglatna, Buloroy, Bunjanan, Burnama, Bwariat, Bwarnirum,



C

Callahan, Calvari, Camerling, Capobianco, Carelsz, Carliano, Carolus, Castera, Castillo, Cecene, Chakenota, Cheiongers, Chello, Chera, Chostantinus, Chrisaldo, Christabel, Christen, Christiaan, Christo, Christoffel, Cie, Cobis, Coendraad, Cohen, Collins, Cols, Comul, Conoras, Consina, Corputty, Corneille, Cornelis, Correia, Courbois, Cramer, Crola, Cuana,



D

da Costa, da Queljoe (atau de Quelju), Dahoklory, Damava, Dandel, Daniel, Daniels, Darany, Dario, Dasfordate, Dasletty, Dasmasela, Dasola, da Silva, da Sousa, Dates, David, Davidz, Dawan, Day, Dayera, Deay, de Barrito, de Bell, de Boer, de Bree, de Brund, de Eng, de Elie, de Feniks, de Flart, Defnada, de Fretes, de Gier, de Graaf, de Haas, de Haart, de Houtman, de Jong (atau de Yong), de Kates, de Keyzer, de Klerek, de Kleric, de Kooc, de Kock, de Kroes, de Leeuw, Delfiga, de Lima, Delly, de Lopez, de Lozari, Demny, den Brave, Denwaklera, Deo, de Powes, Deraukin, Deres, Derhaag, Deriksen, Derikson, Derlauw, Derlen, Derman, de Rooij atau de rooy, de Rozary, de Silo, de Sily, de Sirat, de Soysa, Devenubun, de Vette, Devo, de Vreede, de Wanna, Diasz (atau Dias), Diaas, Diaz, Dikroes, Dilear, Dileer, Diller, Dirk, Dirklalean, Dirksz, Disera, Dagang, Djafry, Djakaria, Djamdjik, Djelagay, Djelau, Djervui, Djermor, Djerol, Djetul, Djibrael, Djilarpoin, Djonler, do Andres, Dobred, Dohasair, Dolhalewan, Domingus, Domlay, Dobbert, Dobertd, Dolaitery, Dolita, Dolkapi, Dolwoy, Dominggos, Dompeipen, Dopiando, Doppert, Doren, Dorseis, dos Santos, Doter, Dousee, Drachman, Drees, Drimol, Drost, Duarmas, Dula, Dumgair, Duparlira, Dwicaprie,



E

Edberth, Edward, Effelewn, Efluar, Efraim, Efruan, Egberth, Eideul, Eirumkuy, Eiwury, El, Elake, Elaury, Eleujaan, Eleuwarin, Elier, Elmas, Elanor, Elath, Eliesen, Elkel, Elle, Ellias, Elfarin, Elminero, Elpis, Elsiba, Elsoin, Eluwart, Elte, Elwarin, Ely, Elyaan, Embisa, Emola, Empra, Emray, Engel, England, Engro, Enrico, Entamoin, Enos, Entero, Enus, Eoch, Erbabley, Eremerd, Erlely, Ernas, Eropley, Ersaprosy, Erwanno, Esomar, Esrev, Esserey, Essy, Etiory, Etrial, Ette, Etwiory, Eugara, Evaay, Evamutan, Evert, Ewaldo, Eyale, Ezauw,



F

Fader, Fadersair, Fador, Faifet, Falaici, Falauf, Falera, Falermury, Falikres, Fallen, Famas, Famney, Fanbrene, Fanlay, Fangohoy, Farjala, Farly, Farsin, Fasse, Fatbinan, Fatfora, Fatlalona, Fatlira, Fatrua, Fatsey, Fauth, Febby, Febesal, Felay, Feldbrugge, Felndity, Feninlambir, Fenjalang, Fenlop, Fenyapwain, Feoh, Fer, Ferlin, Ferdinandus, Fernandes, Fernando, Fernayan, Fesanrey, Fianberi, Fifaona, Fillips, Filmort, Firanty, Firley, Firloy, Fitron, Fiumdity, Flohr, Flontin, Flora, Floris, Flory, Fofid, Fol, Foor, Foraly, Forfan, Forinti, Formes, Forwet, Fower, Frabes, Franciz, Frandescolli, Frans, Franciscus, Franssisco, Fransz, Frare, Freely, Froim, Fuarisin, Fuller, Fursima, Futraun, Futural, Futuray

G

Gabriel, Gaflomi, Gahetto, Gahinsa, Gaite, Gaitian, Gamar, Gamgenora, Ganay, Ganobal, Ganza, Garbim, Gardjalay, Gardjey, Garium, Garlay, Garlora, Garpenassy, Garsiana, Gasko, Gasper, Gaspersz, Gelagoy, Gelfara, Genno, George, Geraldi, Geresi, Geslauw, Ghosaloi, Gigengack, Gill, Gisberthus, Geassa, Geers, Gerrits, Gerson, Giay, Gilbert, Gimon, Ginzel, Giop, Giovani, Givano, Gobay, Godlieb, Goeslaw, Gogerino, Gohir, Goin, Golf, Golle, Golorem, Gomes, Gommies (atau Gommis), Gordan, Gorfan, Gonimasela, Gonsalves, Gonzales, Gosain, Gosem, Gosjen, Goszal, Goteris, Goulaf, Granada, Grasselly, Grisel, Grobbe, Gudam, Gurgurem, Gurium, Gwedjor,



H

Habel, Habibu (atau Habibuw), Hadler, Hahijary, Haikutty, Hair, Hahury, Hakamuly, Hakapaä, Halapiry, Halawane, Halawet, Halirat, Hallatu, Haliwela, Hallauw, Halos, Haluly, Haluna, Haluruk, Hambaly, Hameda, Hammar, Han, Hanavi, Hanegraaf, Hanorsian, Haprekkunarey, Haratilu, Harbel, Haris, Harlen, Harmen, Harmusial, Harnia, Hartala, Hartety, Hartsteen, Hasbers, Haspers, Hassanussy, Hatalaibessy, Hatane, Hataul, Hatharua, Hathelhela, Hatlessy, Hattu (atau Hatu), Hatuina, Hatuleli, Hatuluayo, Hatumessen, Hatuopar, Hatusupy, Hatusupit, Haulussy, Haumahu, Haumalaha, Haumase, Haurissa, Hauwert, Havelaar, Havterheus, Hawaä, Hayat, Hayer, Hayon, Helaha, Hehalatu, Hehakaya, Hehalissa, Hehamahua, Hehamoni, Hehanussa (atau Hehanusa), Hehareuw, Heharu, Heideman, Heikoop, Heipary, Helaha, Heldernisse, Helermuri, Heleryoka, Helewend, Heljanan, Helma, Helnia, Helola, Heluth, Helwed, Helweldery, Hemar, Hemas, Henamony, Henaulu, Hendrick, Hendriks, Hendriksz, Hendrikus, Hendry, Hengkessa, Hengst, Hengtz, Henriques, Herekly, Heremkuy, Herin, Heriola, Herling, Herluly, Herman, Hermanus, Hermarna, Hermeling, Hernauw, Herpiou, Herus, Hetharie, Hetharia, Hetharion, Hetharua, Hetiahubessy (atau Hitahubessy), Heumasse, Heumassy, Heuvelman, Heyer, Hgairtety, Hiariej, Hilaul, Hiteler, Hitalessy, Hitijahubessy (atau Hetiahubessy), Hitipeuw, Hitrihon, Hitiyambessy, Hitto, Hilaul, Hiskia, Hitalesiakwany, Hitirissa, Hiulruur, Hiwy, Hlacronarey, Hoamoal, Hoffmeester, Hogendorp, Hokeyate, Hong, Holatila, Holika, Holle, Holthuisen, Homase, Hommy, Honorsian, Hoor, Horaszon, Hordembun, Horeyaam, Horhoruw, Horts, Horsael, Horsair, Horst, Horu, Hosea, Host, Huath, Hüffner, Huibers, Huik, Huily, Huka, Hukom, Hukunala, Hulkiawar, Hully, Huliselan, Huniake, Hunila, Huninhatu, Hunitetu, Hunsam, Hurasan, Hurlean, Hurry, Hursepuny, Hursina, Hursup, Hurwiora, Husen, Husein, Hutubessy, Hutuely, Huwaa, Huwae,



I

Ibkar, Ihalauw (atau Ihalahu), Ilella, Ilely, Ilery, Imasuly, Imea, Imkorle, Immink, Imoliana, Imsula, Imuly, Inanosa, Intopiana, Ipol, Irapanussa, Iraratu, Irkey, Iriley, Irloy, Irmuply, Isaac, Ishak, Iskiwar, Ismael, Isran, Istia, Italilpessy, Itamar, Itapaty, Itramury, Iwamony, Iwane, Iwar, Iyay, Iyon, Izaach, Izack,



J

Jacob, Jacobs, Jacobus, Jadera, Jaflaun, Jaftoran, Jahya, Jallo, Jamlean, Jalmav, Jamangun, Jambormias, Jamco, Jamrewav, Jamsaref, Jan, Jansay, Jansen, Janser, Janwarin, Jaolath, Jasso, Jeflely, Jekriel, Jellira, Jempormiasse, Jennia, Jerfatin, Jermias, Jeremias, Jesayas, Jethro, Jheo, Jimando, Jirlay, Jochems, Joel, Johan, Johands, Johansz, Johannes, Johannis, Joktimera, Jonain, Jonathan, Jones, Jooce, Joostensz, Joris, Joseph, Jotlely, Jozias, Juarsa, Julian, Julis, Jurben, Jurley, Justinus,



K

Kaary, Kabalessy, Kadmaer, Kadtabal, Kafroly, Kahaela, Kahyoru, Kaibobo, Kaidel, Kaihatu, Kaihena, Kailey, Kaillem, Kailola , Kailolo, Kaimahrela, Kainama, Kaipatty, Kaitjlapatay, Kaitjily, Kajihi, Kakerissa (atau Kakarissa), Kakiailatu, Kakiay, Kakihena, Kakesina, Kalabory, Kallaij, Kalqutny, Kamclane, Kamerkay, Kamsy, Kamuala, Kamukalawae, Kanaitang, Kanawa, Kannety, Kanony, Kapale, Kappuw, Kappy, Kapressy, Karafe, Karanelan, Karatem, Kareis, Karel, Karelaw, Karels, Karesina, Kariuw, Karmezach, Karolis, Karoni, Karspasina, Karsten, Kartensz, Karual, Karuna, Kary, Karyoma, Kasale, Kasamilale, Kasihiw, Kasihuw, Kasmanus, Kassirsz, Kassiuw, Kastanta, Kastanya, Kastella, Kasten, Kastera, Kastero, Kastra, Kasturian, Katayane, Katipana, Kay, Kaya, Kayadoe atau Kayadu, Kayapa, Kdise, Kedalil, Keddah, Kefbarin, Keikuhu, Keilalilota, Kelanit, Kelderak, Keliobas, Keljasa, Keljombar, Kelmaskov, Kelrey, Kelyaum, Kempa, Keppy, Karjapy, Kerthy, Keegel, Kerisoma, Kermite, Kerty, Kesaulya, Ketno, Keumasse, Key, Keyer, Kheral, Khoe, Khomaro, Khouw, Khongred, Khurnalla, Kifta, Kikalessy, Kilanresy, Kilbaren, Killay, Killy, Kilywe, Kilmas, Kipuw, Kirans, Kiriweno, Kiriwenno, Kirlelya, Kirwelak, Kisenrat, Kissia, Kivert, Klauw, Klavert, Klerock, Kloer, Klopfleisch, Knatmera, Kniesmeijer, Knyarilay, Knyarpilta, Kofit, Kohinsafun, Kohumarua, Kohunussa, Koimer, Koisine, Kok, Koknussa, Kolahatu, Kolahuwey, Kolakvera, Kolathena, Kolatveka, Kolelsy, Kolessy, Kolibunso, Kols, Komas, Komnaris, Komrey, Komsary, Konhud, Konoralma, Kooistra, Koraag, Koranelao, Korisen, Koritelu, Korlefura, Korlooy, Kormasella, Kornamne, Kornelis, Korsely, Kortefura, Kortman, Koryesin, Korytelu, Koslout, Kostantin, Kosten, Kotadiny, Kotalawa, Krestian, Kriekhoff, Krisop, Kromes, Kronenberg, Kruytzer, Kudmas, Kudusia, Kufla, Kuhuail, Kuhuparuw, Kuhuwael, Kuhurima, Kulit, Kumbansila, Kundre, Kursam, Kusapy, Kustely, Kuswara, Kuvla, Kuypers, Kwakernaak, Kwalomine, Kwanander, Kwarmona,



L

Laäle, Labalen, Labery, Labobar, Ladisary, Lafina, Lafuur, Lagraduay, Lahale, Lahallo, Laian, Laicerewy, Laidillona, Laikyer, Lailossa, Lailro, Laimesian, Laimeheriwa, Laimena, Laimera, Laimuslo, Lainata, Lainsamputty, Laisina, Laisouw, Laitera, Laiterkuhy, Laitety, Laitjatamu, Lakavin, Lakawael, Lakburlawar, Lakfo, Lakuteru, Lala'ar, Lalihitu, Lalopua, Lamany, Lamawitaq, Lambartir, Lambertus, Lamderts, Lameky, Lamera, Lamers, Lamere, Lamerkabel, Lampira, Lendisyem, Langer, Langoru, Lanith, Lanjkatyela, Laodendulukh, Lapia, Laplelo, Lappy, Laratmase, Larjela, Larjerau, Larmokas, Larope, Lartutul, Larser, Larsoba, Larwuy, Laryana, Lasaaly, Lasamahu, Lasano, Lasatira, Lasera, Lasiomina, Lassol, Latarissa, Latekay, Lattan, Latuael, Latuamury, Latuasan, Latuary, Latubadina, Latuconsina, Latue, Latuharhary, Latuheru, Latuhihin, Latuhamallo, Latuihamallo, Latukaisupy, Latukolam, Latukolan, Latuny, Latupella, Latul, Latulanit, Laturua, Latumaelissa, Latumaerissa, Latumahina, Latumairissa, Latumalea, Latumanuwey, Latumanuseite, Latumapina, Latumeten, Latupapua, Latupeirissa, Latupella, Latuperissa, Latupraja, Latuputty, Latusia, Lattu, Laturake, Laturette, Laturputih, Latus, Latusinay, Latutubaka, Latuconsina, Latusallo, Latuwael, Latusuay, Lauhvy, Laukon, Launuru, Laurika, Lausepa, Lausiry, Lauterboom, Lavina, Lavuy, Lawalata, Lawalatta, Lay, Layabar, Lealessy, Leasa, Leansamputty, Leanwoar, Learity, Leasa, Leasiwal, Leatemia, Leatomu, Lebelauw, Lefmurmuri, Lefta, Leften, Lefteuw, Lefuga, Lefumonay, Lefuray, Legajir, Leikawa, Leimeheriwa, Leitemia, Leihitu, Leimena, Leipary, Leirissa, Leisisel, Leiwakabesy, Leiwier, Leite, Leivitar, Lekahatu, Lekahena, Lekairua, Lekal, Lekalaet, Lekalisa, Lekan, Lekatompessy, Lekawael, Lekenila, Lekerupy, Lekiohapy, Lekiora, Lekipiouw, Lekransy, Leksair, Leksona, Lelapary, Leleulya, Leleury, Leliweary, Lelyemin, Lelsury, Lellortery, Lemosol, Lenahatu, Lendersz, Lendert, Lenna, Leohena, Leomuda, Leonadal, Leonard, Leonary, Leonlina, Lepertery, Lepith, Lermer, Lerrech, Lerrick, Lesbassa, Lesbatta, Lescona, Lesel, Lesiasel, Lesiela, Lesilolo, Lesimanuaya atau Lesimanuaja, Lesirollo, Lesnussa, Lesomar, Lesputty, Lessidi, Lessil, Lessiputty, Lessituny, Lessy, Lestaluhu, Lesteru, Lestuny, Lestussin, Leisubun, Letelay, Lethulur, Let-Lei, Let-Let, Letlora, Letsoin, Letty, Letwar, Letwory, Leuhena, Leuhery, Leulier, Leundra, Leunufna, Leunura, Leurima, Leuwol, Levi, Lewaherilla, Lewahopa, Lewankiky, Lewansorna, Lewantour, Lewaru, Leweheri, Lewenussa, Lewerissa, Lewery, Lewibaker, Lewier, Lewna, Lico, Lidiperu, Lieando, Lienatha, Liesay, Liklikwatil, Likumahua, Likumahwa, Liliefna, Liligoly, Lilihata, Lilihua, Lilipaly, Lilipory, Limaheluw, Limarloy, Limbers, Limehuwey, Limirubus, Limor, Linansera, Lindray, Linson, Liptey, Lipury, Lirrey, Lisaholeth, Lisapaly, Lisnario, Litaay, Litamahuputi, Litilohy, Litwart, Liufeto, Loby, Lobya, Lodarmase, Lodrigus, Lohy, Loilar, Loimalitna, Loimehiapy, Loirouw, Loisa, Loisoklay, Loiurro, Loka, Lokarleky, Lokollo, Lokra, Lolinwafan, Lomera, Lomesliden, Londer, Loomeyer, Lopes, Loppies, Lopuhaä, Lopulalan, Lopulissa, Lopumeten, Loran, Lorenzo, Lorwens, Losepta, Loswetar, Lotsepta, Lotusyera, Louhenapessy, Louhanapessy, Louhattu, Louhery, Louis, Loulolia, Loupatty, Loupias, Lourensz, Louth, Loutwaviokar, Louw, Lowaer, Loyra, Luamasse, Lucas, Ludimera, Lufkey, Luhukay, Luhulima, Lukmetiabla, Lukukay, Luis, Lukas, Lumalessil, Lumamuly, Lumanon, Lumatalale, Lumoly, Lumona, Lumuly, Lumyar, Lundberg, Lurika, Lusikooy, Lusnarnera, Lussy , Luther, Luturdas, Luturmas, Luturkey, Luturyaly.



M

Maäda'el, Maäil, Maähury, Maälette, Maänary, Maäsuly, Maätita, Maätitahputih, Maätitawaer, Maätoke, Maäturwey, Machmara, Macora, Macsurella, Madelis, Madethen, Madrach, Madubun, Maelissa, Maerissa, Maghyn, Magista, Magistroy, Mahakena, Mahu, Mahubessy, Mahulete atau Mahulette, Mahupale, Mahwil, Maici, Maifor, Maigoda, Maiheuw, Maihoram, Maik, Mailera, Mailissa, Mailoa, Mailopuw, Mailuhu, Mainake, Mainasse, Mainasy, Maintor, Maipau, Mairera, Mairuhu, Maitha, Maitimu, Maituni, Makahinda, Makalew, Makalaypessy, Makarawe, Makasenda, Makatey, Makatita, Makeralo, Makewe, Makooy, Malagwar, Malaihollo, Malaka, Malakauseya, Malaluhon, Malawat, Malawau(w), Male, Malesi, Malinder, Malioy, Malirafin, Malirmasele, Malkus, Malloly, Mallur, Maloka, Maloky, Malonsilly, Manait, Manakane, Mancino, Mandalise, Mandessy, Mandry, Manduapessy, Mangar, Mangera, Mangidano, Manginsela, Manila, Manilet, Manintamahu, Manipa, Manina, Manlany, Mansilety, Mantauw, Manthol, Mantouw, Mantulameten, Manuel, Manuhuttu, Manufury, Manukelle, Manukiley, Manukily, Manupassa, Manuputti atau Manuputty, Manusama, Manusiwa, Maollo, Mapussa, Marantika, Marantha, Marasabessy, Marcus, Mardia, Mardjan, Marer, Mareray, Maressy, Maretray, Marian, Marguly, Marino, Marlay, Marolan, Marloune, Marlovolin, Maros, Marsela, Marthens, Maryanan, Marlissa, Marmusial, Maromon, Marthen, Marthinus, Marthius, Masado, Maruanaja atau Maruanaya, Marwa, Maryate, Masbait/Masbaitoeboen (baca: Masbaitubun), Masella, Masesua, Masiglat, Maspaitella, Masriat, Masrikat, Massen, Matahelumual, Matahurilla, Matakena, Matakupan, Matalatta, Matalatua, Matanassy, Matapere, Matatula, Matauseya, Metekohy,Materay, Matheis, Matheos, Matheus, Matinahoruw, Matitahmeten, Matimau, Matmey, Matinahoru, Matital, Matitaputty, Matloa, Matly, Matruthe, Matrutty, Mattale, Mattinahotuw, Matuahitimahu, Matualessy atau Matulessy, Matuanakotta, Matulty, Maturbongs, Matuwalatupauw, Matwear, Mauauth, Mauberg, Maudara, Mauhema, Maulanny, Maulias, Mauressy, Maurits, Maussa, Mautheis, Mauweng, Mawara, Mawetars, Mayahy, Mayano, Mayaut, Mayor, Meckel, Mehedila, Mehen, Mehiwarleky, Mehmorlay, Mehmory, Meifarth, Meikdely, Melaira, Meliezer, Melmambessy, Melsadalim, Melsasail, Melwaer, Mendes, Mendoza, Menora, Merdio, Merweer, Mesack, Mesdila, Mesliden, Mesloy, Messa, Metalmely, Metaloby, Metanleru, Metekohij, Metehelemual, Metiary-Lumalessil, Metiora, Metjikit, Metrian, Meturan, Meute, Meyano, Meyer, Mezack, Michael, Mina, Minaelt, Minaely, Mioch, Miog, Mirlauw, Miru, Moeri, Moers, Mofun, Moksen, Molana, Moll, Molle, Monaten, Mondjil, Moneay, Moniharapon, Monipola, Monny, Montefalcon, Mora, Mores, Morgan, Morios, Morsen, Moryaan, Mosez, Mosse, Mouren, Mouw, Mozes, Mual, Muges, Mularen, Mulder, Muller, Munster, Muriolkossu, Murjani, Musaad, Musila, Muskitta, Mustamu, Mustany, Mutlay, Muya, Musly,



N

Nafali, Naflery, Nahaklay, Nahumarusy, Nahumuri atau Nahumury (atau Tuanahumury), Nahusuly, Nahusona, Nahuway, Naihonam, Naim, Nampasnea, Namserna, Namuru, Nanariain, Nandisa, Nanlessy, Nanlohy, Nares, Naressy, Nanulaitta, Nanuru, Nanusella, Naraya, Narayaman, Narmo, Naroly, Narua, Naryemin, Nasela, Naskay, Nasrany, Natan, Natasian, Natjikit, Natlayer, Natten, Natro, Nauwe, Navan, Nettana, Nicolaas, Niker, Nitakessy, Nitalessy, Nelson, Nife, Nikodemus, Nindatu, Ninkeula, Nisaf, Nendissa, Nengkuela, Nengkuelya, Nererain, Nerwel, Neva, Neyte, Ngelyaratan, Ngabalin, Ngamel/Ngamelubun, Nifmaskossu, Nikijuluw (baca:Nikiyulu), Nirahua, Nisdoam, Nivaan, Nokpay, Norimarna, Norwens, Nova, Novira, Noya, Nugracia, Nuhuyanan, Nukuhehe, Nuniary, Nunlehu, Nunumete, Nuraha, Nurlatu, Nurlette, Nurtanio, Nurue, Nusaly, Nussy,



O

Octavians, Oersepuny, Ofan, Ohello, Ohoiledjaan, Ohoimar, Ohoiner, Ohoira, Ohoirenan, Ohoitavun, Ohoiwirin, Ohorella, Ohman, Oilira, Oita, Oktoseya, Oladasi, Olamando, Olczweski, Olinger, Oliver, Olivier, Oliviera, Olkteseja, Onaola, Onardo, Onarely, Onarloy, Ondy, Ongels, Ongkers, Onoly, Oosterhuis, Oppier atau Opir, Oraile, Oraplawal, Oraplean, Orindalim, Orno, Orun, Oryoin, Oshaer, Osleky, Ospara, Otmudy, Otta, Oudshoorn, Oybur,



P

Paaijs atau Paays, Pahar, Paija, Paihra, Pairhy, Pakaila, Pakaless, Pakkel, Pakniany, Palain, Palajo, Palapessy, Palpialy, Palencar, Palias, Palica, Palijama atau Palyama, Palijate, Palisoa, Palpia, Pamounda, Panjaito, Panpalares, Papilaya (atau Papilaja), Parera, Parety, Parewang, Pariama, Pariela, Parihala, Parinama, Parintah, Parinussa, Pariuri atau Pariury, Parjer, Paron, Parura, Pary, Pasalbessy, Pasanea, Paselima atau Passelima, Pasinau, Passa, Passal, Passau, Patawaria, Patehaduan, Pati, Patjanan, Patras, Patrouw, Pattalala, Pattawala, Patti, Pattianakota, Pattiapon, Pattiasina, Pattiata, Pattiiha, Pattihahuan, Pattiheuwean, Pattikairatu, Pattikawa, Pattileamonia, Pattileraonia, Pattileuw, Pattilouw, Pattimahu, Pattimaipauw, Pattimukay, Pattinama, Pattinasarani atau Pattinasarany atau Pattinaserany, Pattinaya, Pattinussa, Pattipawaej, Pattipeilohi atau Pattipeilohy atau Pattipilohy, Pattipeiluhu, Pattirajawane, Pattirousamal, Pattiruhu, Pattisahusiwa, Pattisamalo, Pattisapacoly, Pattiselanno, Pattiserliun, Pattisina, Pattisinay, Pattisia, Pattiwael, Pattiwaelapia atau Pattiwaellapia, Pattimura, Pattiusen, Pattotmen, Patty, Pattynama, Paturia, Paul, Paulain, Paulus, Paulusz, Paunno, Payara, Pay, Payer, Payessy, Pea atau Peea, Peca, Pehine, Peilouw, Peimahul, Peisina, Pelamonia, Pelapelapon, Pelapory, Pelasula, Pelaury, Peletimu, Pellata, Pellaupessy, Pello, Pelman, Pelmelay, Pelu, Pelupessy, Penny, Penu, Pentura, Pentury, Perdijk, Peres, Perez, Perklay, Perley, Perloy, Persulessy, Pertafun, Perulu, Peseletehahan, Pesireron, Pesiwarisa, Pesilette, Pessi atau Pessy, Pesoelima atau Pesulima, Pesurnay, Pesuwarissa, Peta atau Petta, Petrusz, Peuohaq, Peweloy, Phillips, Philippus, Pical, Picanussa, Picarima, Picasouw, Picauly atau Picaulima, Picauria, Piculima, Pieter atau Pieters, Pieterst, Pietersz, Pieris, Pieritsz, Pikason, Pinoa, Piris, Piries, Pirsouw, Pisarahu, Pitna, Pitoty, Pitries, Pocerattu, Pohirey, Pohwain, Poipessy, Pokar, Pokomasse, Pokrena, Polari, Polhaupessy, Pollatu, Polnaya, Polsiary, Polway, Polyn, Pomeo, Pony, Pooroe, Porce, Porfchy, Porkily, Porlary, Porloy, Pormes, Porsche, Porsiana, Porsisa, Porudara, Porulery, Porwaila, Porway, Postema, Postma, Potoruw, Prans, Pronk, Proprey, Prossy, Proym, Pulumahuny, Pupella, Purimahua, Putiheruw, Putirulan, Puttileihalat, Puttineta, Puttiray, Putuhena, Puturuhu, Puyamna, Pynuslan,



Q

Que, Queljoe, Quezon,



R

Rachil, Radamussa, Radiena, Radjabaycolle, Radjawane, Rafael, Rafel, Rafupaira, Ragalomi, Rahabav, Rahabeat, Rahaded, Rahado, Rahael, Rahajan, Rahakbauw, Rahalob, Rahankey, Rahaor, Rahanra, Rahansikwer, Rahanten, Rahawarin, Rahayaän, Rahalus, Rahangier, Rahangmetan, Rahankuren, Rahansamar, Rahentus, Rahanwatty, Rainony, Raja Boean, Rajab, Rajawane, Ralahallo, Ralahalu, Rambers, Ramchic, Ramon, Ramschie, Ranguly, Raprap, Rarsina, Ratissa, Ratsehaka, Ratsina, Ratte, Ratuhalin, Ratukoten, Ratulohain, Raturomon, Ratuteher, Raude, Raviv, Rea, Reane, Reawaruw, Reasoa, Rebiltaban, Recy, Redonov, Reeyk, Reffialy, Refilely, Refilteman, Refualu, Refun, Refwalu, Regel, Rehatalanit, Rehatta, Rehiary, Reihara, Reilely, Reimas, Reinhard, Reinould, Reintjes, Reiper, Reitiwal, Reken, Relew, Relmasira, Remialy, Remkes, Remmona, Rendat, Ren-El, Renfan, Renfarak, Rengil, Rengirit, Renhoar, Renhoran, Renhuard, Reniban, Renleeuw, Renmaur, Renolat, Renoult, Rentor, Rentua, Renuf, Renuw, Renwer, Renwet, Renyaän, Rerebain, Reressy, Rerinne, Rering, Rery, Resbal, Residay, Resie, Resilowy, Resimery, Reslanut, Reslev, Resley, Resmol, Respessy, Ressel, Ressok, Restuny, Rettob, Reunussa, Revalo, Revo, Revualo, Rey, Reyk, Reyth, Rheebok, Ria, Riamlias, Ribock, Richard, Rici, Ridtjab, Rieuwpassa, Rihna, Rihulay, Rijoly, Rikiwelas, Rikumahu, Rirlherta, Rinsampessy, Riri, Riry, Ririasa, Ririhatuela, Ririhena, Ririmasse, Ririmasu, Riripoy, Riry, Rirsouw, Risahondua, Risakotta, Risamassu, Risamena, Risambessy, Risampessy, Risapori, Risreuw, Risteruw, Ritananuku, Ritawaemahu, Ritho, Ritiauw, Rivai, Riyanda, Road, Roberth, Robertho, Röder, Rodja, Rodriguez, Roffe, Roge, Roirelmasira, Rolas, Rolobessy, Romean, Romalaha, Rombaello, Romeon, Rommer, Romera, Rometna, Romhery, Romkeny, Romlioni, Romlus, Romode, Romohoira, Rompies, Romrainy, Romsery, Romumoij, Romtia, Romuty, Roos, Rooy, Ropena, Rorafuy, Rorainy, Rosen, Rosevelt, Rosfader, Rossi, Rostary, Rosumbre, Rotasouw, Roteltap, Rotobessy, Ruban, Ruff, Rügebregt, Rugebreith, Ruhukail, Ruhulessin, Ruhulessy, Ruhupessy, Ruhunlela, Ruhunussa, Ruhupatty, Rukka, Ruimassa, Rumalattu, Rumailal (Rumaillo), Rumalaiselan, Rumalaselan, Rumalatea, Rumalewang, Rumaloine, Rumamina, Rumamory, Rumappar, Rumasoal, Rumatora, rumkeny, Rumthe, Rumfaan, Rumaf, Rumadery, Rumahenga, Rumakety, Rumalaiselan, Rumangun, Rumarihu, Rumaruson, Rumasella, Rumbalifar, Rumbouw, Rumew, Rumfaan, Rumfot, Rumlaän, Rumles, Rumlus, Rumngevur, Rumphius, Rumpis, Rumpuin, Rumsory, Rumthe, Rupisiay, Russel, Ruspanna, Russyn, Rusten, Rutumalesi, Rutunalessy,



S

Saämena, Sabandar, Sabonno, Sadsuitubun, Safenussa, Sagena, Sahabudin, Sahanaya, Sahalessy, Sahar, Saharui, Sahertian, Sahetapy, Sahetumby, Sahilatua, Sahlan, Sahuburua, Sahulata, Sahuleka, Sahureka, Sahupalla, Sahusilawane, Said, Saidely, Saija (atau Tuasaija dari Nunusaku. baca: Saiya, Tuasaiya), Saihainenia, Saihitua, Sailapra, Sailele, Saimima, Saimorsa, Sainafat, Saineran, Sainlia, Sainyakit, Saipelessy, Sairas, Sairdama, Sairduly, Sairkora, Sairlela, Sairlona, Sairlouth, Sairpaly, Sairseta, Saiselar, Saitian, Sairtory, Saklil, Sakliressy, Salahalo, Salahay, Salaka, Salakory, Salamahu, Salambessy, Salambona, Salampessy, Salamena, Salamony, Salamor, Salasiwa, Salatalohi, Salawane, Saleky, Salhuteru, Saliha, Salkery, Sallira, Salomon, Salmon, Salosso, Salurilla, Samadara, Samafat, Samal, Samall atau Samallo, Samaleleway, Samanerey, Samar, Samadara, Samasal, Samder, Samen, Samkay, Samloy, Samollo, Sampulawa, Samson, Samual, Samuel, Samusamu, Sanahu, Sanaky, Sanders, Sandert, Sangaji, Santiago, Sapacoly, Sapalewa, Sapasuru, Sapia, Sapulete, Saptenno, Sapsuka, Sapthu, Sapury, Sapya, Saquarella, Sardinson, Sarimolle, Sarioa, Sarkol, Sarloy, Sarmaly, Sarmanella, Sarusway, Sasabone, Sasake, Sasole, Saulissa, Sauruy, Savsavubun, Schaduw, Schenkuysen, Schrifen, Sedubun/Sedoeboen, Seamiloy, Seane, Seay,Seilano/silano atau Selano, Seimahuira, Seimahuwa, Seipalla, Seipattiratu, Seipattiseun, Seir, Seite, Sekarone, Sekewael, Selanno, Selatnaya, Seldjatem, Selgader, Seleky, Selfenay, Selitubun, Sella, Selra, Selsily, Seltubir, Seluhollo, Selvara, Selvuan, Sem'ula, Senor, Septorday, Septory, Serandoma, Serhalawan, Serin, Seriven, Sermaf, Serpara, Serpiela, Serro, Serumena, Serusiay, Sersian, Sesye, Setha, Setty, Seuw, Sewta, Siahanenia, Siahaya, Siaila, Sialana, Siane, Sianressy, Siarukin, Sichers, Siegers, Sienaya, Sieto, Sifata, Sigin, Sigmarlatu, Sihasale, Sikte, Sila, Silahooij (baca: Silahoy), Silara, Silawane, Silawanebessy, Siletty, Silfanay, Silgaden, Silipory, Silkaty, Sillueta, Sillouw, Silooy, Silvera, Simaela, Simao, Simauw, Simatouw, Simon, Simona, Sina, Sinamona, Sinatti, Sinay (atau Tuasinay), Singadji, Singerin, Sinia, Sinmiasa, Sintiory, Sinyendir, Sipahelut, Sipasulta, Sipiel, Sipolo, Sirdjoir, Sirken, Sirlay, Sirsobad, Sitanala, Sitania, Sitaniapessy, Siutta, Siwabessy, Siwalette, Sklaressy, Slarmanat, Slassa, Slubyanik, Snall, Snylau, Snyopwain, So, Soakakone, Soares, Socnosiwy, Sodefa, Soentpiet, Sogalrey, Sohilait, Soin, Soindra, Solarbisain, Solehuwey, Solemeda, Solefucy, Solgarey, Solinav, Solissa, Solmeda, Solukh, Somae, Somes, Somey, Somnaikubun, Songbes, Sonray, Sooch, Sopacua, Sopacuaperu, Sopaheluwakan, Sopamena, Sopaoia, Soparue, Soparve, Sopla, Soplatu, Soplanit, Soplantila, Soplely, Soplera, Soplero, Soprali, Sorfay, Sorfory, Soriale, Soriton, Sorluri, Sormin, Sormudi, Sorsery, Soruday, Soselissa, Sotja, Souhally, Souhoka, Souhuken, Souhuwat, Souissa, Soukotta, Soukully, Soulinay, Soulissa, Soumeru, Soumete, Soumokil, Soumory, Soumulin, Souripet, Soyem, Spies, Srue, Stanly, Stefanus, Suad, Sucelaw, Sula, Suiker, Suitella, Suli, Sulilatu, Sumanik, Sumany, Sumual, Suneth, Sunloy, Supulatu, Supusepa, Surey, Suribory, Suripatty, Surker, Surlia, Sutaner, Sutrahitu, Suttela, Syahailatua, Syaharanie, Syaranamual, Syatauw, Syauta, Syelau, Syeramwain,



T

Tabalessy, Tabavmolu, Tabelssy, Taberima, Taborat, Tackow, Tahallea, Tahalele, Tahamata, Tahanora, Tahapary, Tahiya, Tahitoe atau Tahitu, Tahoes, Tahor, Taihutu, Tail, Takahepis, Takarbessy, Takaria, Talabessy, Talahatu, Talahaturuson, Talakua, Talaksoru, Talanila, Talla, Tallane, Tallaut, Tamaela, Tamalsir, Tamarmans, Tambalangi, Tamher, Tamonob, Tamtelahitu, Tan, Tanahatu, Tanahitumessing, Tanalepy, Tanalisan, Tanamal, Tanee, Tanalea, Tanalessy, Tanate, Tanesya, Tangahu, Tanic, Tanifan, Tanikwele, Taniwel, Tansora, Tantoly, Tanwey, Tapilow, Tarantein, Tarehy, Tarinathe, Tarumaselly, Tarusy, Tasaney, Tasidjawa, Tassane, Tataperuw, Tatipatta, Tatipikalawan, Tatuhey, Tauran, Tauatanasse, Tawaerubun, Tayalla, Tayl, Tebiary, Tefara, Tehuayo, Tehubijuluw (baca:Tehubiyulu) , Tehupeiory, Tehupelasury, Tehusiarana, Tehupuring, Tehusyarana, Tehuwayo, Teis, Teky, Telepary, Teliaur, Telsuera, Temmar, Tenine, ten Cate, ten Have, Telussa, Tengens, Tentua, Tepal, Terinate, Teriraun, Terling, Terlir, Terloit, Termas, Termature, Terry, Terseman, Tertimelay, Tertroman, Teslatu, Tesno, Tetelay, Tetelepta, Teterissa, Tethool, Tetikay, Tetlageni, Tetrapoik, Tety, Tevtuar, Tharob, The, Thebez, Thecher, Thedy, Thelessy, Themin, Thenager, Thenu, Theny, Theodorusz, Theofilla, Theorupu, Theovilus, Thernando, Theruty, Thesman, Thetius, Theuw, Thiemailattu, Thienus, Thiesman, Thinar, Thio, Thiosubu, Thiotansen, Thobias, Thomas, Thorion, Thovian, Thto, Thung, Thyssen, Tjuparia, Tiahahu, Tianotak, Tibalea, Tibalimeten, Tielman, Tifof, Tigele, Tildjuir, Timahery, Timisela, Timotius, Tilukay, Tiotor, Tipalameten, Tipialy, Tipuria, Tirel, Tisera, Titariuw, Titasen, Titawanno, Tiwery, Titahena, Titaheru, Titaley, Titapasanea, Titarsole, Titarsoley, Titasomi, Titawananno, Titiheru, Titus, Tiven, Tiwery, Tjialfa, Tlingkery, Tobelo, Toberwaer, Toffy, Tohatta, Toisuta, Toker, Tomadina, Tomahu, Tomaluweng, Tomasila, Tomasoa, Tomasouw, Tomatala, Tomaula, Tomhissa, Tomia, Tomio, Tomoria, Tomyar, Tonikoe, Tonrate, Tooren, Topurlay, Topurtawy, Toras, Toressy, Torlain, Tormyar, Torry, Tosane, Tosil, Tousalwa, Touwe, Towait, Trando, Tromlakor, Tromlay, Trona, Ttehelu, Tuahattu, Tuatfaru, Tubalawony, Tuahuns, Tuakora, Tualena, Tuanahu, Tuanahumury atau Nahumury, Tuanani, Tuanakotta, Tuankotta, Tuanaya, Tuanger, Tuapattinaya, Tuarissa, Tuasaija dari Nunusaku atau Saija (baca:Saiya), Tuasamu, Tulaseket, Tuasella, Tuasinay atau Sinay, Tuasuun, Tuatanassy, Tubalawony, Tuharea, Tuhehaij, Tuhilatu, Tuhuleruw, Tuhumena, Tuhumuri atau Tuhumury, Tuhuteru, Tuhusula, Tulalesia atau Tulalessy, Tuluheru, Tumansery, Tumury, Tunyluhulima, Tupalessy, Tupamahu, Tupan, Tupanno, Tupanwael, Tupasouw, Tupawael, Tupenalay, Tuquiha, Turben, Turgey, Turmua, Turubasa, Turuy, Turukay, Tusmain, Tuther, Tutkey, Tutuarima, Tutuhatunewa, Tutuiha, Tutupary, Tutupohu, Tutupoly, Tuwanakotta, Tuwatanassy, Tuapetel, Tuasikal, Tumober, Tuparia, Turkey, Tusyek, Tuurfon, Tyssenraad,



U

Ubfan, Ubleeuw, Ubra, Udigary, Udinera, Ukru, Uktolseya, Uktosya, Ulate, Ulorlo, Ulter, Umagaf, Umasugi, Umhersuny, Unarapal, Unatenina, Unemlora, Unenor, Uneputty, Unilefta, Uniplaita, Unitly, Unkelefta, Unmehopa, Unola, Unsia, Untarolla, Unwakoly, Uperessy, Upessy, Ur, Urath, Uray, Urayawa, Urbayani, Urbansini, Urdjel, Urel, Uren, Urilal, Urlyoly, Ursia, Uruilal, Urutmaan, Usemahu, Usman, Usmani atau Usmany, Uspessy, Uspitany, Utanno, Uwella, Uwen, Uvuuratuw, Uze,



V

van Afflen, van Amstel, Vanath, van Belouw, van Bergen, van Bochove, van Bokhove, van Bulow, van Bussel, van Capelle, van Caspel, van Delsen, van de Haare, van der End, van der Kloor, van der Meer, van der Sluis, van der Weden, van der Zee, van Diest, van Dijk, van Driel, van Enst, van Exel, van Gils, van Harling, van Hoogmoed, van Houten, van Irsel, van Joost, van Nieuwenhuizen, Vanon, van Puffelen, van Ringen, van Room, van Saker, van Strijland, van Suiker, van Sukker, van Surker, Vavuu, Veerman, Veenendaal, Verhagen, Versteegh, Vetegh, Victor, Vidlela, Vijsel, Vinola, Visser, Vollebregt, Voly, Voriume, Vorst, Vriese, Vun



W

Waäel, Waasar, Waas, Waber, Waelaruno, Waifly, Walagwaor, Wally, Wamona, Wangarwy,Wasahua, Wantaar, Warella, Wariunsora, Wacanno, Wael, Waeleruny, Waerisal, Wails, Wailussy, Wairatta, Waisapy, Wakan, Walaia, Walsen, Walten, Wamesse, Wance, Wanne, Warbal atau Warbala, Warbel, Warella, Waricey, Warkey, Warkor, Wasia, Watloly, Watmanlussy, Watmersan, Watrimny, Watsira, Wattiheluw, Wattilete, Wattimanela, Wattimena, Wattimury, Waulath, Wayerjuari, Weber, Wedilen, Wee, Weeflaar, Weheb, Wehfany, Welary, Welafubun, Weler, Weller, Wellem, Wellikin, Wemay, Wemaf, Wenehen, Wenger, Wenno, Wenus, Weridite, Werinussa, Wesplat, Wessy, Wetamsair, Wewra, Wewza, Wifly, Wilfred, Willys, Wilyams, Wlena, Woersok, Wohel, Woherhair, Wohir, Woley, Wolff, Wolontery, Wonatha, Wonhery, Wonley, Wonmaly, Wonsera, Woolf, Woriun, Wotheisen, Wothouzen, Wuisan, Wuarlijma, Wuctres, Wurletta,



Y

Yabar, Yabarmase, Yafur, Yahawadan, Yakob, Yalmav, Yambreswav, Yamla'ay, Yamrat, Yamvav, Yani, Yantel, Yanuby, Yaranmassa, Yarin, Yauply, Yauris, Yebassy, Yehelissa, Yehuda, Yemnifan, Yenussy, Yerigair, Yerwuan, Yesaya, Yesayas, Yeuyanan, Yeviwra, Ynawarin, Yoel, Yohanes, Yohanis, Yokohael, Yoktery, Yolmen, Yonenain, Yongnaim, Yoor, Yoram, Yordan, Yoris, Yoseph, Yosieto, Yousaf, Yubibyanan, Yulianus, Yunus, Yusak, Yusuf,

Z

Zacharias, Zainilessy, Zakeus, Zalkheus, Zamon, Zaverius, Zein, Zoin, Zue, Zuley, Zijlstra,
Sumber: file:///D:/marga%20suku%20maluku.htm

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management